Kuliah Umum Pembelajaran Dimensi Tiga Abad 21

Pendidikan Matematika UIN Sunan Kalijaga kembali menyelenggarakan Kuliah Umum pada semester genap tahun ajaran 2019/2020 pada tanggal 19 Agustus 2020. Ada yang berbeda pada kuliah umum kali ini dibandingkan kegiatan serupa sebelumnya, yaitu dilaksanakan secara daring (dalam jaringan) akibat merebaknya pandemi virus Covid-19 di Indonesia. Tema kuliah umum kali ini adalah Pembelajaran Dimensi Tiga Abad 21 dengan mengundang narasumber Bapak Wiworo, S.Si., M.M. dari PPPPTK Matematika dan Bapak M. Zuhair Zahid, M.Pd. dari Universitas Negeri Semarang.

Pada sesi pertama, Pak Wiworo mengangkat materi bagaimana mengeksplorasi polihedron sisi beraturan. Bentuk-bentuk polihedron sebenarnya sudah sangat dekat dengan diri kita sejak kita balita dalam bentuk mainan anak-anak namun kita baru mengenal nama-namanya pada bangku sekolah dasar dan sekolah menengah. Beberapa arsitektur di dunia termasuk di Indonesia juga terinspirasi dari bentuk polihedron diantaranya Cube House yang terletak di kota Rotterdam, Belanda, lalu ada Art Tower yang menjulang di Prefektur Ibaraki, Jepang, juga ada dari Indonesia yaitu Masjid Al-Safar karya dari Gubernur Jawa Barat saat ini Ridwan Kamil yang terletak di sebelah sisi selatan jalan Tol Cipularang, Jawa Barat.

Polihdedron yang kita kenal terdiri dari dua macam, yang pertama adalah polihedron konkaf yaitu polihedron yang jika kita menghubungkan dua buah titik pada polihedron dengan sebuah segmen garis, terdapat segmen garis yang terletak di luar polihedron tersebut. Sedangakan yang kedua adalah polihedron konveks yang jika kita menghubungkan dua buah titik pada polihedron, segmen garis yang menghubungkannya seluruhnya terletak di dalam polihedron.


Pak Wi, begitu Pak Wiworo akrab disapa tidak hanya memberikan orasi ilmiah tentang polihedron, beliau juga mengajak mahasiswa peserta kuliah umum untuk terlibat langsung dalam mengeksplorasi polihedron diantaranya: karakteristik poligon beraturan pembentuk Polihedron Platonik dan Polihedron Archimedean, membuat konstruksi model polihedron dari jaring-jaring, mengeksplorasi Formula Euler dan mengekplorasi Dual dari Polihedron Platonik dan Polihedron Archimedean.

Pada sesi Kuliah Umum kedua, Pak Zuhair membawa kita terlebih dahulu mempelajari sejarah Geometri lalu teori-teori pembelajaran Geometri yang pernah dikemukakan oleh pada ahli seperti Piaget, Inhelder, dan Van Hiele. Setelah itu kita diperkenalkan dengan beberapa software yang digunakan untuk mempelajari ilmu geometri seperti Geogebra, Cabri 3D dan Wolfram Alpha.

Selanjutnya Pak Zuhair mengajak kita untuk melihat bagaiamana pembelajaran pada abad 21 ini dengan membaca hasil-hasil riset terbaru. Diantaranya adalah Augmented Reality dengan menggunakan aplikasi MathCityMap. Seorang guru pada zaman sekarang dapat memanfaatkan ponsel pintar yang dimiliki oleh siswanya untuk belajar geometri, seperti mengukur tangga, mengukur lemari yang ada di depan mereka dengan menggunakan kamera dari ponsel mereka seperti cara kerja yang digunakan oleh game Pokemon GO! yang beberapa waktu lalu booming di dunia.

Selain itu kita juga diajak mengkombinasikan aplikasi Scratch dengan Geometri dalam pembelajaran. Scratch adalah aplikasi pemrograman yang mudah digunakan oleh anak-anak sebagai alat untuk mengintergasikan bahasa pemrograman dengan geometri. Hal ini sejalan dengan keinginan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia yaitu Bapak Nadiem Makarin yang menginginkan siswa-siswa di sekolah dapat belajar Computational Thinking.

Kuliah umum ini dapat disaksikan ulang di channel YouTube PMat UIN Suka atau klik di sini. (Burhanuddin Latif)